Kepala Bappeda Wakili Bupati Hadiri FGD Multi-Stakeholder “Kopi Sinjai 2035”, Tegaskan Kolaborasi Lintas Sektor Kunci Penguatan Ekosistem Kopi Daerah

0

SINJAI,- Bupati Sinjai di wakili Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sinjai adalah Haerani Dahlan, S.IP., M.Si menghadiri Focus Group Discussion (FGD) multi-stakeholder bertajuk “Kopi Sinjai 2035” yang digelar Dompet Dhuafa Republika Sulawesi Selatan, dengan tema “Menata Arah Menguatkan Ekosistem: Dari Perjalanan Pemberdayaan Menuju Kekuatan Ekonomi Daerah”. Kegiatan berlangsung di aula Pitulimpoe, Kawasan Madaya, Desa Arabika, Kecamatan Sinjai Barat, Kamis (8/10/2026).

FGD ini di laksanakan juga untuk menjadi momentum konsolidasi seluruh pemangku kepentingan untuk merumuskan arah pengembangan kopi Sinjai dalam satu dekade ke depan. Selain itu, konteks dari forum

FGD ini mempertemukan pemerintah daerah, pelaku usaha, petani, akademisi, lembaga filantropi, serta mitra pembangunan dalam satu ruang diskusi. "Tema yang diangkat menegaskan posisi kopi bukan sekadar komoditas pertanian, melainkan pintu masuk menuju penguatan ekonomi daerah yang berkelanjutan," ujar Haerani.

Haerani menjelaskan bahwa Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan telah mendampingi petani kopi Sinjai sejak 2019 melalui program pemberdayaan berbasis kawasan di Madaya, Desa Arabika, Kecamatan Sinjai Barat. Perjalanan delapan tahun tersebut menjadi fondasi yang menghubungkan FGD ini dengan capaian nyata di lapangan.

Bupati menurut Kepala Bappeda, Haerani Dahlan menegaskan bahwa pengembangan kopi Sinjai memerlukan kolaborasi berbagai pihak. “Pengembangan potensi daerah membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Tidak hanya dari sisi pariwisata, tetapi juga bagaimana komoditas lokal seperti kopi dapat memiliki nilai tambah dan memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat,” ujarnya.

Satu hal yang di sampaikan juga bahwa pentingnya hilirisasi. “Kuncinya adalah hilirisasi. Kelompok tani harus didukung untuk meningkatkan produktivitas sekaligus kualitas hasil panen agar memiliki daya saing,” katanya.

Arahan ini sejalan dengan komitmen Pemerintah Kabupaten Sinjai yang telah menetapkan kopi sebagai salah satu komoditas unggulan dalam rencana pembangunan industri kecil 2015–2035.

FGD ini dirancang untuk menjawab pertanyaan strategis: bagaimana mengonversi keberhasilan pemberdayaan berbasis komunitas menjadi kekuatan ekonomi daerah yang sistematis dan berkelanjutan. Beberapa isu kunci yang dibahas meliputi penguatan kelembagaan petani, akses pembiayaan berbasis wakaf produktif, pengembangan Indikasi Geografis (IG) kopi Sinjai, serta integrasi kopi ke dalam agenda pembangunan kawasan perdesaan.

Di akhir sambutannya, Haerani menyampaikan apresiasi kepada Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan atas konsistensi pendampingannya. Ia berharap FGD ini menjadi titik balik dari pendekatan pemberdayaan parsial menuju pembangunan ekosistem kopi yang terintegrasi. “Sinjai memiliki lahan, potensi, dan sumber daya manusia. Yang kita butuhkan adalah komitmen bersama untuk menata arah dan menguatkan ekosistem dari hulu ke hilir,” pungkasnya.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)